Kamis, 31 Maret 2011

Yang Terlewatkan dalam Pendidikan




ADA kesan kuat, baik guru, orangtua, maupun murid, selalu didorong untuk mengejar dan menghimpun informasi keilmuan sebanyak mungkin, namun melupakan aspek pendidikan yang fundamental, yaitu bagaimana menjalani hidup dengan terhormat. Salah satu penyebab merebaknya korupsi ialah gagalnya dunia pendidikan dalam pembentukan karakter agar hidup selalu dipandu nurani.
Pagi-pagi, seorang ibu dan anaknya dengan wajah tegang menuju rumah seorang aparat pemerintah. Pertemuan itu tak lebih dari 10 menit. Ibu dan anak pamit, dan pulang dengan wajah ceria. Keceriaan disampaikan kepada ayahnya melalui telepon. Apa yang terjadi?
Rupanya ibu dan anak itu berhasil memperoleh bocoran soal ujian setelah membayar sejumlah uang. Apa yang signifikan dari peristiwa ini? Jika peristiwa itu direnungkan, suatu hal amat jelas. Orangtua telah menanamkan virus kehidupan kepada anak bahwa sukses bisa dibeli dengan uang, dengan menyogok, dan semua itu seolah sah-sah saja. Peristiwa itu juga menggoreskan catatan seumur hidup di hati anak. Pagi itu, orangtua telah merobohkan prinsip kejujuran. Akibatnya, jika suatu saat orang atau guru mengajarkan nilai-nilai kejujuran, anak akan menilai semua itu bisa ditawar. Singkatnya, secara moral orangtua tidak lagi punya wibawa untuk mengajarkan kejujuran di mata anaknya.
Belum lama ini saya dibuat tercenung membaca Pojok Kompas (15/1). Tertulis: "Kelulusan 322 calon PNS di Departemen Agama dibatalkan sebab yang bersangkutan tak ikut tes". Di lingkungan Depag, juga di departemen lain, kecurangan seperti ini bukan hal baru. Namun saat korupsi terjadi di Depag, implikasi moral politiknya lebih besar karena bisa mengarah pada logika bahwa Depag yang mestinya berperan sebagai "sapu yang bersih" telah terseret dan menyatu bersama sampah yang hendak dibersihkan.
Pendidikan berbasis karakter
Pendidikan adalah usaha sistematis dengan penuh kasih untuk membangun peradaban bangsa. Di balik sukses ekonomi dan teknologi yang ditunjukkan negara-negara maju, semua itu semula disemangati nilai-nilai kemanusiaan agar kehidupan bisa dijalani lebih mudah, lebih produktif, dan lebih bermakna. Namun banyak masyarakat yang lalu gagal menjaga komitmen kemanusiaannya setelah sukses di bidang materi, yang oleh John Naisbit diistilahkan High-Tech, Low-Touch. Yaitu gaya hidup yang selalu mengejar sukses materi, tetapi tidak disertai dengan pemaknaan hidup yang dalam. Akibatnya, orang lalu menitipkan harga dirinya pada jabatan dan materi yang menempel, tetapi kepribadiannya keropos.
Seseorang merasa diri hebat dan berharga bukan karena kualitas pribadinya, tetapi jabatan dan kekayaan, meski diraih dengan cara tidak terhormat. Pribadi semacam ini oleh Erich Fromm disebut having oriented, bukan being oriented, pribadi yang obsesif untuk selalu mengejar harta dan status, tetapi tidak peduli pada pengembangan kualitas moral.
Ketika pendidikan tidak lagi menempatkan prinsip-prinsip moralitas agung sebagai basisnya, maka yang akan dihasilkan adalah orang yang selalu mengejar materi untuk memenuhi tuntutan physical happiness yang durasinya hanya sesaat dan potensial membunuh nalar sehat dan nurani. Padahal, aktualisasi nilai kemanusiaan membutuhkan perjuangan hidup sehingga seseorang akan merasa lebih berharga dan bahagia saat mampu meraih kebahagiaan nonmateri, yaitu intellectual happiness, aesthetical happiness, moral happiness ,dan spiritual happiness. Pendidikan yang sehat adalah yang secara sadar membantu anak didik bisa merasakan, menghayati, dan menghargai jenjang makna hidup dari yang bersifat fisikal sampai yang moral, estetikal, dan spiritual. Peradaban dunia selalu dibangun oleh tokoh-tokoh moral-spiritual, yang dihancurkan politisi dan teknokrat yang mabuk kekuasaan.
Selama ini produk pendidikan amat kurang membantu pertumbuhan spiritualitas anak sehingga mereka sulit mengagumi keramahan langit terhadap bumi, gemercik air, festival awan, kekompakan hidup dunia semut, dan perilaku alam lain yang semua itu merupakan ayat-ayat Tuhan dan bacaan terbuka yang amat indah. Ini semua disebabkan kesalahan proses pendidikan yang kita dapat, yang hampir melupakan dimensi akal budi dan emosi serta tidak memandang alam sebagai esentitas yang hidup.
Sebenarnya tak ada benda mati di hadapan orang yang akal budinya hidup. Terlebih di hadapan Tuhan, semuanya hidup dan bekerja atas perintah-Nya karena tercipta bukan tanpa tujuan. Pendidikan kita kurang mengajarkan bagaimana bersahabat dan berdialog dengan kehidupan secara menyeluruh.
Sebuah kasus menarik saat bencana tsunami di Aceh, hampir tidak ditemukan bangkai sapi atau kerbau dan hewan lain karena semuanya telah menyelamatkan diri. Hewan-hewan itu memiliki kepekaan dan mampu berdialog dengan sesama penghuni bumi saat bahaya akan datang. Kalaupun ada yang mati, itu lebih dikarenakan hewan-hewan itu kurang makan atau terjebak di kandang.
Belajar dan mengajar dengan hati
Seiring munculnya kesadaran dan tuntutan moral dalam dunia bisnis, dalam dunia pendidikan juga muncul gerakan baru untuk melibatkan emosi dan nurani dalam proses pembelajaran. Dipopulerkan oleh Danah Zohar, Ian Marshall, dan Daniel Golleman, literatur seputar betapa vitalnya dimensi spiritual dan emosional dalam kerja dan belajar kian diapresiasi kalangan eksekutif muda dan praktisi pendidikan. Misalnya, Training ESQ- Leadership yang dimotori Ary Ginanjar mendapat sambutan masyarakat.
Pelatihan ini menghasilkan lebih dari 50.000 alumni, tersebar di seluruh perusahaan di Indonesia, dan tiap bulan bertambah sedikitnya 7.000. Bahkan training ini telah masuk kurikulum SESKOAD Bandung. Fenomena ini tentu amat menggembirakan, sebuah kebangkitan kesadaran etis dan spiritual dalam upaya membangun bangsa yang bermartabat serta mendorong lahirnya generasi baru yang setia dengan nilai-nilai luhur kemanusiaan dan ketuhanan.
Ada beberapa buku yang sebaiknya dibaca para guru, misalnya karya-karya Eric Jensen, Thomas Armstrong, dan Dave Meier soal bagaimana menciptakan proses dan suasana pembelajaran dengan mengacu pada sifat otak dan emosi (brain based learning) sehingga suasana belajar menjadi nyaman, kreatif, dan kontemplatif. Pembelajaran yang menjadikan siswa sebagai subyek, di mana anak-anak itu memiliki nurani dan potensi multikecerdasan, namun belum tergali dan teraktualisasi. Dengan demikian, proses pembelajaran sebaiknya dimulai dengan melihat, mengamati, dan merasakan lingkungan sosial yang dihadapi, guru dan murid berempati menjadi bagian integral dari realitas sosial dan semesta. Dari situ keilmuan dibangun untuk membantu memecahkan problem kemanusiaan.
Semua ilmu pengetahuan awalnya adalah produk kegelisahan akal budi dan nurani guna meringankan beban hidup manusia. Celakanya, banyak kaum profesional dan birokrat yang dengan ilmu dan jabatannya malah menjadi penindas rakyat. Rakyat amat merindukan pemimpin, birokrat, dan pelaku pasar yang senantiasa mempertahankan prinsip hidup terhormat, hidup yang dipimpin suara hati, meski bisa jadi harus siap hidup sederhana. Itu semua harus dimulai dari pendidikan keluarga dan sekolah yang menjunjung tinggi pendidikan karakter.

INOVASI PENDIDIKAN ISLAM SAYYID AHMAD KHAN



A. Pendahuluan
Ada dua kejadian penting pada abad ke 18 yang turut mewarnai suasana kaum Muslimin India secara politis seputar abad ke 19 M. Pertama merosotnya kekuasaan kerajaan Mughal yang diawali dengan wafatnya Aurangzeb pada 1707 M. Kedua, seiring dengan itu kekuasaan dan kedudukan para pedagang Inggris di India pun semakin kokoh.
Dengan meninggalnya Aurangzeb, para gubernur diberbagai propinsi melepaskan diri dari kekuasaan kerajaan Mughal, sehingga pada gilirannya wilayah kekuasaan kerajaan itu hanya meliputi wilayah Delhi dan sekitarnya saja. Perpecahan politik pada pemerintahan itu dimanfaatkan oleh kaum Maratha untuk menyusun kekuatan di Daccan. Kelompok ini adalah orang-orang Hindu Militan di propinsi Bombay. Dengan memanfaatkan kekacauan dan kelemahan kerajaan Mughal mereke berhasil memperluas wilayah kekuasaannya sehingga menjadi wilayah yang kuat di daerah Daccan sekitar tahun 1737 M.
Dalam suasana instabilitas politik itu orang-orang Inggris mengambil kesempatan untuk memperkokoh kedudukannya sebagai pedagang dan berusaha merebut posisi politik. Usaha mereka ini berhasil dengan jatuhnya Benggala ke tangan mereka dalam pertempuran Plassey pada 1757 M.
Sisa-sisa kekuatan Mughal akhirnya habis setelah terjadi suatu pemberontakan pada tahun 1857 M. Peristiwa ini merupakan babak terakhir keruntuhan politis seluruh kaum muslimin di anak benua India.
Namun demikian dalam periode keruntuhan politik kaum Muslimin itu, masih muncul beberapa tokoh pemikir dan pembaharu dikalangan ummat Islam. Salah seorang tokoh tersebut adalah Sayyid Ahmad Khan.

B. Biografi Akhmad Khan
Ahmad Khan lahir tanggal 6 Dzulhijjah 1232 Hijriyah atau 17 Oktober 1817 Masehi di kota Delhi. Ia biasa dipanggil dengan Sir Sayyid. Sebutan Sir ia dapatkan dari bangsa Inggris atas jasa-jasanya terhadap Inggris. Sedangkan sebutan Sayyid karena ia masih keturunan langsung nabi Muhammad SAW. Ia merupakan keturunan dari Husain bin Ali bin Abi Thalib, cucu Rasulullah. Neneknya Sayyid Hadi adalah pembesar istana di zaman Alamghir II (1754-1759). Ayahnya bernama Mir Muttaqien pegawai istana Mongol. Setelah mundur dari jabatannya, ia menghabiskan waktunya bersama Shah Ghulam Ali. Ahmad Khan muda menjadi orang yang shalih karena ajaran Shah Ghulam Ali. Pada usia 18 tahun ia bekerja pada Serikat India Timur (EIC), kemudian bekerja sebagai hakim. Tetapi di tahun 1846 ia pulang kembali ke Delhi meneruskan studinya.
Selanjutnya mendapat pendidikan formal pertama kali disebuah maktab (mungkin kalau di Indonesia semacam madrasah diniyah), yaitu lembaga pendidikan Islam tradisional yang khusus mengajarkan ilmu agama. Di Maktab ini ia belajar bahasa Parsi, bahasa “beradab” bagi muslim India pada waktu itu, dan juga berhitung. Ia lebih banyak mendapat bimbingan dari ibunya, seorang wanita yang bijaksana, yang mengasuhnya dengan sungguh-sunguh, sehingga ia memperoleh pengetahuan yang cukup tentang beberapa ilmu pengetahuan yang biasa diajarkan di madrasah-madarasah muslim pada waktu itu. Selain itu, ia seorang anak yang sangat rajin membaca berbagai ilmu pengetahuan. Dan ditambah pengetahuannya tentang masalah-masalah kenegaraan (ilmu pemerintahan). Pengenalannya dengan kebudayaan barat diperolehnya dari sang kakek dari pihak ibu, Khawaja Fariduddin, yang pernah menjadi Perdana menteri di Istana Mughal masa Sultan Akbar II selama delapan tahun.


C. Ide Pembaharuan Pendidikan Sir Sayyid Ahmad Khan
Sir Sayyid Ahmad Khan adalah salah seorang figur dalam sejarah gerakan pembaharuan India yang hidup di abad 19. Ia berkesimpulan bahwa kebangkitan kembali hanya mungkin dengan penafsiran ulang ajaran Islam serta penerimaan aspek-aspek yang baik dari pemikiran dan peradaban Barat moderen. Ia menerima realitas pemerintahan Inggris yang sangat kuat sebagaimana telah terbukti dalam pemberontakan 1857. Sejak awal, Ahmad Khan memang menentang ide pemberontakan tersebut. Pemikirannya, nampaknya mewakili sindroma psikologis yang diderita umat Islam ketika melihat dan merasakan sendiri kekuatan yang dimiliki bangsa-bangsa Eropa. Baginya perlawanan politik revolusioner tidak akan mungkin berhasil dalam realitas tersebut. Ahmad Khan berpendapat bahwa usaha peningkatan kedudukan dan kesejahteraan ummat Islam India dapat diwujudkan melalui kerja sama dengan Inggris sebagai penguasa di India. Dalam fikirannya, menentang kekuasaan Inggris tidak akan membawa kebaikan bagi ummat Islam India tetapi akan menjadikan umat Islam semakin mundur serta akan jauh ketinggalan dari masyarakat Hindu India.
Ahmad khan percaya bahwa pembaharuan harus dijalankan atas dasar kerjasama penuh dengan Inggris. Ia sangat menyesalkan penindasan yang harus dialami umat Islam setelah tahun 1857. Ia berupaya keras meyakinkan Inggris bahwa umat Islam tidak semestinya diperlakukan kejam, serta berjuang meyakinkan umat Islam India bahwa Inggris tidak perlu dimusuhi. Ahmad Khan tidak menginginkan perlawanan politik karena hal tersebut hanya akan berbuah derita seperti masa pasca pemberontakan. Di samping pendekatan kooperatif, Ahmad khan menekankan posisi ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai sumber kekuatan Barat. Untuk bisa maju umat Islam harus menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, dan ini hanya akan diperoleh melalui kerjasama dengan Inggris.
Dalam argumentasinya tentang hubungan Islam dengan sains, Ahmad Khan sangat dipengaruhi oleh rasionalisme Eropa dan pandangan filsafat alam yang meyakini penelitian alam sebagai sumber utama kebenaran. Bagi Ahmad Khan, Islam adalah agama rasional dan hukum alam tidak bertentangan dengannya. Alam yang berfungsi berdasarkan sunnatullah tidak mungkin bertentangan dengan Qur’an dan sunnah. Selanjutnya, jika Islam sejalan dengan hukum alam, maka ia tidak mungkin bertentangan dengan sains modern yang didasarkan pada penemuan hukum-hukum alam. Dengan kata lain ia berfaham qadariah. Manusia dianugerahi Tuhan daya berfikir yang disebut akal dan daya fisik untuk mewujudkan kehendaknya. Islam baginya adalah agama yang mempunyai faham hukum alam (hukum alam buatan Tuhan). Antara hukum alam sebagai ciptaan Tuhan dan al Qur’an sebagai sabda Tuhan, tidak terdapat pertentangan. Keduanya mesti sejalan. Rasionalisme dan naturalisme ini juga ia manfaatkan dalam memberi penjelasan tentang berbagai aspek ajaran Islam lainnya.
Dari keyakinan mengenai pentingnya ilmu pengetahuan dan teknologi, lahirlah serangkaian upaya pembaharuan yang terfokus pada perombakan sikap Muslim India terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi moderen serta rasionalisme. Secara natural jalur perjuangan yang paling relevan untuk cita-cita tersebut adalah pendidikan dan kebudayaan. Muslim India harus memperoleh pendidikan model Barat, tetapi pada waktu yang sama harus pula membangkitkan budaya asli mereka.
Di samping pendidikan ala Barat yang ada di India, Ahmad Khan berkesempatan melihat langsung sistem pendidikan Barat ketika ia berkunjung ke Inggris. Salah satu masalah utama, menurutnya adalah kurangnya literatur tentang sains moderen. Ahmad Khan mengorganisasikan upaya penerjemahan buku-buku penting, dan pada tahun 1864 membentuk The Translation Society di Ghazipur, yang kemudian berganti nama menjadi The Scientific Society . Diantara buku yang diterjemahkan dalam bahasa Urdu ialah History of India karya Elphinstone dan Political Economy karya Mills. Sekembali dari Ingris ia menerbitkan jurnal berbahasa Urdu, Tahdzib al- Akhlaq- edisi pertamanya terbit bulan Desember 1870. jurnal ini dimanfaatkan untuk menyebarkan ide-ide pembaharuan Ahmad Khan maupun tokoh-tokoh lain yang sejalan dengannya. Jurnal ini ternyata berpengaruh sangat luas, tidak saja sebagai media penyebaran ide-ide pembaharuan, tetapi juga dalam perannya dalam pengembangan bahasa Urdu. Karena hal ini Ahmad Khan juga dianggap sebagai salah seorang tokoh pelopor sastra Urdu moderen.
Puncak usaha Ahmad Khan di bidang pendidikan adalah pendirian Mohammadan Anglo-Oriental College (MAOC) pada tahun 1875 di Aligarth. Kemudian pada tahun 1920 berganti nama menjadi Aligarh Muslim University. MAOC diharapkan dapat melahirkan satu generasi Muslim yang menguasai ilmu-ilmu moderen Barat namun tetap mempertahankan komitmen yang tinggi terhadap Islam. Untuk tujuan ini maka kurikulum yang diajarkan adalah kombinasi antara ilmu-ilmu agama Islam dan ilmu-ilmu moderen. Dalam kenyataannya, pengajaran Islamlah yang membedakan MAOC dari sekolah moderen Inggris di India, di mana tidak di ajarkan agama Islam. MAOC sangat ketat mengawasi ketaatan pengamalan agama mahasiswanya. Namun di sisi lain, MAOC terbuka bagi orang non muslim. Direktur, pengajar dan sejumlah stafnya adalah orang Inggris. Sebagian besar pengajaran dilakukan dengan pengantar bahasa Inggris. Disini mata kuliah modern merupakan mata kuliah pokok tanpa mengabaikan pendidikan agama.
Untuk mendukung sosialisasi MAOC dan untuk mengukuhkan ide-idenya Ahmad Khan membentuk Muslim Educational Conference (1886) yang bertugas melaksanakan kampanye tentang pentingnya pendidikan, serta pendidikan dalam bentuk apa yang paling dibutuhkan oleh masyarakat India. Konferensi pendidikan yang diadakan setiap tahun oleh organisasi ini berperan besar dalam menyadarkan Muslim India akan pentingnya modernisasi system pendidikan dalam upaya kebangkitan mereka.
Cita-cita Ahmad Khan untuk memadukan Islam dengan sains moderen tidak sepenuhnya berhasil. Islam yang diajarkan di MOAC tetap merupakan Islam tradisional. Konsepnya tentang Islam rasional dan berdasarkan hukum alam selalu dilihat curiga oleh mayoritas ulama. Ahmad Khan harus menerima kenyataan bahwa pengajar agama Islam yang dianggap otoratif adalah ulama lulusan lembaga pendidikan tradisional seperti madrasah Deoband. Meski menimbulkan banyak kontroversi, terutama dikalangan ulama, MOAC berpengaruh cukup luas dan memiliki andil besar dalam kemajuan Muslim India pada zaman berikutnya. Sejumlah alumninya menjadi tokoh-tokkoh terkenal di India pada awal abad ke 20. Melalui lembaga ini Ahmad Khan meletakkan dasar yang kokoh bagi satu tradisi intelektual yang terbukti berusia panjang. Ide-idenya menjadi awal dari rangkaian pemikiran yang belakangan sering disebut dengan gerakan Aligarh, sebuah gerakan pemikiran yang ditujukan sepenuhnya untuk mendukung pembaharuan Islam di anak benua India.
Ahmad Khan mengabdikan diri bagi pembaharuan khususnya pendidikan Muslim India melalui MAOC selama lebih kurang dua dekade. Selanjutnya ide-idenya dikembangkan dan disebarkan oleh murid dan pendukungnya. Dengan demikian gerakan Aligarh terus berkembang walaupun Ahmad Khan telah tiada. Di usia senjanya Ahmad Khan dibantu, lalu digantikan, oleh Sayyid Mahdi Ali yang lebih terkenal dengan nama Muhsin al Mulk.
Beberapa hasil karya Sayyid Ahmad Khan adalah Atsar al-Sanadid (1874) yang merupakan hasil penelitiannya tentang arkeologi di Delhi dan sekitarnya, Essay on life of Muhammad (1870), Tafsir al-Qur’an sebanyak 6 jilid, Ibthal al-Ghulami (1890) dan Tabyin al-Kalam (1860). Selain itu juga menulis dua buku Tarikh Sarkhasi Bignaur (1858) dan Asbab Baghawad Hind (1858). Ada juga buku sejarahnya yaitu Monument of The Great (1847) yang menjadi rujukan ahli sejarah menggambarkan tentang keadaan Delhi revolusi 1857. Dari hasil karyanya ini terihat pula bahwa Sayyid Ahmad Khan termasuk penulis yang produktif.
Ahmad Khan mengakhiri perjuangannya dengan berpulangnya ke rahmatullah pada tanggal 27 Maret 1898 dalam usia 81 tahun, dan dimakamkan di Aligarh.

D. Penutup
Kontribusi Ahmad Khan kepada masyarakat Islam India tidaklah terbatas dalam usahanya mengadakan perdamaian dengan penguasa Inggris. Dia telah memberikan sesuatu yang terbaik untuk kesejahteraan bangsanya, pendidikan moderen. Ahmad Khan dipandang sebagai seorang pelopor pendidikan moderen bagi umat Islam India. Usaha Ahmad Khan dalam pendidikan telah mampu menjembatani kesenjangan intelektual antara zaman pertengahan dengan zaman modern. Beliau memberi umat Islam sesuatu kekuatan baru, cita-cita pendidikan baru, kebijaksanaan politik dan tokoh pelopor sastra Urdu moderen. Walaupun terdapat kritikan terhadap cara pembaharuannya namun kebanyakan murid-murid yang di didiknya mampu menjadi tokoh yang besar.