Pada hakikatnya manusia adalah makhluk sosial, artinya adalah manusia tidak bisa hidup sendiri, pasti membutuhkan orang lain. Ciri-ciri manusia sebagai makhluk sosial terlihat pada saat manusia melakukan suatu hubungan dengan orang lain. Hasil dari hubungan ini dapat bersifat baik dan buruk. Untuk dapat memahami lebih lanjut mengenai hubungan tersebut, perlu suatu pembahasan mengenai interaksi sosial.
Interaksi sosial terjadi jika satu individu melakukan tindakan sehingga menimbulkan reaksi pada individu-individu yang lain. Karena itu interaksi terjadi dalam kehidupan sosial. Dengan kata lain interaksi dapat diartikan sebagai hubungan timbal balik atau saling memengaruhi di antara gejala aneka kehidupan yang dilakukan oleh manusia.
Interaksi sosal dibagi menjadi tiga macam, yaitu: (1) Interaksi antara individu dan individu. Dalam interaksi itu, individu yang satu memberikan pengaruh, rangsangan, atau stimulus kepada individu lainnya. Sebaliknya, individu yang terkena pengaruh itu akan memberikan reaksi, tanggapan, atau respons. (2) Interaksi antara individu dan kelompok. Interaksi semacam ini menunjukkan bahwa kepentingan seorang Individu berhadapan dengan kepentingan kelompok. (3) Interaksi antara kelompok dan kelompok. Interaksi ini terjadi antara kelompok-kelompok sebagai satu kesatuan dan biasanya tidak menyangkut pribadi anggota-anggotanya.
Interaksi sosial dalam kehidupan bermasyarakat, terjadi saling memengaruhi antar individu perindividu, antar individu perkelompok, dan antar kelompok perkelompok. Interaksi tersebut dapat menimbulkan suatu hubungan yang bersifat asosiatif maupun disosiatif. Interaksi yang bersifat asosiatif berarti hubungan-hubungan tersebut mengarah pada kesatuan. Sebaliknya, interaksi yang bersifat disosiatif berarti hubungan-hubungan tersebut mengarahkan pada perpecahan.
Dalam kehidupan masyarakat awam, interaksi yang terjadi sering membingungkan mereka. Kehidupan sosial yang selalu berkembang dan berubah pada setiap saat, akan menjadi kendala yang menyulitkan bagi kehidupan mereka. Karena itu diperlukan suatu stabilisator; yaitu cara untuk menyeimbangkan keadaan agar kehidupan sosial menjadi stabil dan masyarakat terhindar dari perpecahan. Ajaran tentang akhlak dan budipekerti serta aplikasinya dalam amal perbuatan dapat berfungsi sebagai penyeimbang tersebut dalam kehidupan sosial dan budaya.
Demikianlah pembahasan mengenai interaksi sosial. Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa lepas hubungannya dengan orang lain. Dalam kehidupan bermasyarakat, terkadang terdapat kendala-kendala dalam kehidupan sosial akibat dari interaksi. Oleh karena itu diperlukan suatu stabilisator agar kehidupan sosial menjadi stabil dan terhindah dari kehancuran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar